every little things in my head
cuma di Solo
me: ini pak *kasiduit
bapak penjual crepes: ga ada yang kecil mbak duitnya?
me: ngga ada pak, cuma ini aja selembar
bapak penjual crepes: aku ga adai kembaliannya
me: yah jadi..
bapak penjual crepes: wis besok aja bayarnya, saya disini tiap hari
me: lho tapi pak..
bapak penjual crepes: udah gapapa besok aja *kibastangan
me: *supernganga
e: diz ada kafe baru lho. enak makanannya buat nyemil2.
d: kafe apa?
e: kayak susu2 gitu, jadi ada macem2 rasa buah. kapan2 gw ajak deh.
d: namanya?
e: Mom Milk
d: .......................

it still isn’t cool if a man saying the words that looks down on women. seolah ga butuh cewe tapi taunya nembak juga dan muja-muja demi diterima seorang cewe. whoa who do you think you’re? go to hell hypocrite!

BAD GIRL!

Ibu pernah bilang; jangan berteman dengan ular, nanti kena bisanya.

Gw ga sepenuhnya setuju sama pendapat itu, karena gw ga mau memandang orang sebelah mata.

Sebelumnya gw beberapa kali temenan - bahkan sahabatan, sama anak yg orang-orang bilang ‘nakal’. For the truth, ternyata mereka anak yang asik dan super kreatif yang orang lain ga bisa nyambung aja pikirannya. Dilain sisi, mereka bukan anak dengan tabiat buruk sebenarnya.

Namun manusia memang berbeda-beda. Dan manusia juga diberi bisikan dari Tuhannya, agar bisa merasakan mana yang baik atau ngga. Itulah intuisi. Hanya aja gw cukup mengabaikan intuisi negatif saat ‘anak nakal ini’ deket2in gw, karena orang-orang disekitar gw entah kenapa rasanya seperti bersikeras melakukan pembelaan terhadap anak ini. “Dia baik lho walau ‘gitu’…”. Nakal maksudya.Alhasil, gw bersikeras juga berpositif thinking bahwa dia anak baik.

Apa yang gw dapat? Pada akhirnya kena juga ‘bisa’nya. Anak ini semakin menunjukkan sifat aslinya. Dia datang saat butuh kunci pagar kos karena ingin pulang jam 2 pagi. Pernah saking butuhnya dia berniat bela-belain datang ke kos kakak gw karena gw lagi nginap disana. Semalam saat gw diluar kos jam 10.30, dia minta dibelikan mr.burger atau apapun yang masih saat jam itu. MINTA CARIKAN? LO BUKAN NYOKAP GW CUK! MANA UTANG LO BELOM LO BAYAR! Karena ga berniat bantu dia (minta tolong dengan baik aja ngga), gw menunjukkan ketidakbisaan gw masih dengan baik-baik untuk tidak memenuhi keinginannya. Tapi apa yang gw dapet? Si biadab ini tetap maksa sampai harus kakak gw meladeni BBMnya. Alhasil marah-marah lah kakak gw karena dia nanggepin dengan tidak sopan dan berotak. Mulai saat itu gw bener-bener yakin bahwa dia adalah orang yang teramat najis yang pernah ada dideket gw, dan gw ga pantes baik-baik dan berpikiran baik lagi karena perlakuan dia ke gw. Dia datang Butuhnya aja dateng, ngga butuh layaknya orang ga kenal. Boro-boro temen. 

Itu berarti emang mesti banget mendengarkan intuisi sendiri daripada omongan orang. Yang baru gw sadari, ironisnya ternyata yang ngomong adalah orang yang tidak tahu menahu dan berusaha berpikiran baik, orang yang pernah disentil oleh kebaikan anak ini jadi dia memulai berpikiran baik, dan ada juga orang yang uda pernah kena bisanya tetapi masih berpikiran baik. I didn’t know what the hell happen to you all. I’m sorry for that, you just tryin’ to be nice. But for the truth, I felt shame on you. Ga ada yang boleh munafik lagi, anak ga tau diri seperti ini memang harus ditegaskan dan pantas menerima pelajaran dari apa yang dia lakukan.

The Mark of Tai Kucai

The mark of tai kucai adalah salah satu memori masa lalu gue saat SMA. Kata-kata ini kembali teringat saat gue kemarin malem - sekitar jam 7, nyasar naik motor ke kuburan cina gara-gara jalan ditutup kondangan. Sepanjang jalan kiri kanan tembok kuburan, apakah gue udah dijalan yang bener ato tambah masuk lebih jauh ke kuburan gue sendiri gatau. Mungkin insting bahaya gue nyala saat tiba-tiba gue berimajinasi ada setan yang nemplok, ato pas gue liat di kaca spion motor, gue udah bonceng seseorang. Dan otomatis akhirnya gue mikirin hal-hal yang konyol.

Cerita ini berasal dari SMA Islam Al-Azhar 4 Kemang Pratama, tempat gue memperjuangkan kuliah negri. Bangunannya sekel, tembok dilapisi batu-batu besar, dan lantai tangga dari batu-batu kecil. Suatu saat dikelas tiga, gue dan sahabat gue, vira, jalan ke lab komputer di lantai tiga dari kelas kita di lantai satu. Saat melewati tangga sambil tertawa-tawa, kita terhenti oleh sesuatu didepan kita. Adalah tai kucing segar dengan warna coklat kekuning-kuningan yang nyaris terinjak vira. Kita berhenti lalu mencoba menerka-nerka kenapa si kucing bisa pup disini, tangga dengan lantai batu-batu kecil.

Mulailah kita menjadi autis, bersok tau ria mencari jawaban. Mungkin aja kucingnya udah urgent banget, diujung tanduk. Ato mungkin kucingnya ga nyaman sama tanah, nyamannya di pattern batu. Ato mungkin kucingnya ga nemuin tanah, nyerah sehingga dimanapun jadi. Mungkin juga kucingnya liat pak Muroji, guru ekonomi killer, lalu takut dan brebet. Setelah sadar yang kami lakukan adalah hal yang amat sangat menjijikkan dan tidak berguna, mulailah kami kembali berjalan.

Saat turun, tai kucing itu tak lagi ada disana, namun kalau diperhatikan dengan seksama, masih ada bekas coklat dan kekuning-kuningan yang ada di lantai batu-batu kecil tangga lantai satu. Mulailah gue dan vira menamai tempat itu dengan “The Mark of Tai Kucai”. Besoknya, dan besok-besoknya lagi hingga gue akan lulus, the mark of tai kucai selalu masih ada, dan tidak bisa hilang dari pikiran kami.

(ノ `Д´)ノ ~┻━┻